Nama : Lamtinur Citra Lestari Sitanggang
Nim
: 1302045129
Hubungan Internasional Reguler B 2013
'Refleksi "Mengenal Parlemen Lebih Dekat"
Mengacu pada teori
sistem oleh David Easton bahwa salah
dalam suatu proses politik terjadi dengan adanya input dan output yang
membentuk sebuah proses. Dalam kenyataannnya dalam memahami proses input dan
output dapat kita lihat dari salah satu lembaga negara yaitu DPR. Maka pada
tanggal 18 mei 2015, Mahasiswa Teori Perbandingan Politik Program Studi Hubungan
Internasional Universitas Mulawarman angkatan 2013, mengadakan kunjungan ke
DPRD Kalimantan Timur sebagai salah satu lembaga legislatif untuk lebih
memahami sistem yang berlangsung dan mendapat informasi secara langsung dari
anggota DPR. Dengan mengambil tema “ Mengenal Parlemen Lebih Dekat” mahasiswa
diharapkan akan mampu memperoleh gambaran yang lebih akurat akan parlemen
(dalam hal ini tingkat provinsi) dan melihat apakah adanya sinkronitas antara
input dan output dan bagaimana perbandinganya jika dihadapkan pada teori dan
fakta di lapangan.
Mahasiswa Hubungan
Internasiaonal disambut oleh Komisi 4 DPRD yang membawahi pendidikan dan akan
melakukan diskusi antara mahasiswa dan
anggota DPRD. Yang menjadi narasumber adalah anggota DPRD dari Komisi 4 namun
beberapa diantaranya datang dari Komisi lain yaitu Komisi 1 yang membidangi
masalah hukum. Selama kira-kira satu jam lamanya para narasumber memberikan materi serta penjelasan.Dari
penjelasan yang disampaikan oleh narasumber kesan pertama saya adalah bahwa
beberapa narsumber kurang menguasai tema sehingga materi yang disampaikan jauh
dari tema yang ditawarkan. Beberapa narasumber menjadi semacam menceritakan
kisah hidup mereka.
Namun salah satu
pemateri yang menurut saya menarik
adalah narasumber dari Komisi 1 DPRD yaitu Ibu Komariah, yang
menjelaskan secara gamblang dan lugas akan parlemem dan merupakan pemateri yang
paling menguasai tema yang ditawarkan walau sangat disayangkan harus
meningalkan tempat sebelum diskusi berakhir.
Kesan selanjutnya yang
saya dapatkan adalah bahwa diskusi tidak dikonsep dengan baik, karena pada saat
diskusi tidak jelas siapa yang jadi moderator sehingga baik materi dan
pengenalan pribadi narasumber tidak terarah dengan baik. Selain itu, pengaturan
waktunya juga tidak efisien (dalam hal ini para narasumber tidak hadir sesuai
jam yang ditentukan sebelumnya) sehingga harus menunggu lama dimulainya acara
yang berpengaruh pada efektivitasnya diskusi. Narasumber datang satu-persatu
bahkan ada yang datang di pertengahan maupun penghujung acara diskusi.
Namun demikian bisa
dirasakan oleh para mahasiswa bahwa dengan diskusi yang dilakukan, anggota DPRD
Samarinda berusaha seterbuka mungkin dengan mahasiswa yang datang ditunjukkan
dengan para anggota DPRD yang barusaha menjawab setiap pertanyaan dari
mahasiswa dan menjadikannya sebagai masukan bagi kinerja DPRD kedepannya.
Selain itu anggota DPRD juga menyarankan agar aspirasi mahasiswa juga ada
baiknya jika disampaikan melalui forum diskusi (seperti yang dilakukan oleh
mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional pada saat itu) daripada harus melakukan
aksi demonstrasi yang anarkis. Mereka juga menyampaikan bahwa asal dilakukan
dengang baik dan mengajukannya ke Komisi yang bersangkutan. Misalnya masalah
kenaikan BBM maka diajukan kepada Komisi yang membawahi ekonomi, misalnya
masalah pengadaan fasilitas pendidikan, diajukan kepada Komisi yang membawahi
bidang pendidikan.
Anggota DPRD juga
menyebutkan bahwa sering kali aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat tidak
dapat ditanggapi dengan baik karena tidak disampaikan kepada Komisi yang
bersangkutan, seringkali tujuan penyampaian aspirasi sangat bersifat umum (
miasalnya hanya kepada anggota DPR saja tanpa menyebutkan tujuan spesifiknya). Selain itu anggota DPR
juga menjelaskan bahwa tidak semua masalah yang disampaikan dapat diwujudkan
semuanya karena setiap aspirasi yang datang dari masyarakat ditinjau dahulu
kelayakannya dan direalisasikan dalam bentuk kebijakan berdasarkan kelayakan
prioritas masalah tersebut.
Dalam diskusi dengan
tema “Mengenal Parlemen Lebih Dekat “ ini juga para narasumber menyampaikan
apresiasinya kepada mahasiswa Hubungan Internasional karena dinilai sangat
antusias untuk mengikuti jalannya diskusi. Hal ini dilihat dari antusias
peserta diskusi dengan menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang berbobot dan
mampu melihat fenomena-fenomena yang terjadi di Kalimantan Timur dan
menyuarakannya sebagai suatu masukan yang berkualitas bagi DPRD Kalimantan
Timur.
Beberapa pertanyaan
yang diajukan oleh Mahasiswa yang menurut saya menarik adalah pertanyaan dari
Risky Diana Priastari yang menanyakan lebih efektif mana penyampaian aspirasi
dengan orasi maupun demonstrasi atau
penyampaian dengan forum diskusi, yang dijawab dengan baik oleh anggota
DPR dengan alasan akan lebih efektif dengan berdiskusi namun sangat jarang
terjadi dan semestinya dibangun.
Pertanyaan lainnya
adalah dari Belita Ayu yang bertanya bagaimana DPRD Kalimantan Timur melakukan
komunikasi politik dan soaialisasi politik
bagi masyarakat, yang dijawab oleh Angota DPR bahwa komunikasi dan sosialisasi politik
dilakukan dengan adanya “recess” yaitu
para anggota DPR melakukan kunjungan ke masyarakat dan melihat keadaan menampung aspirasi dari masyaraat dan
menjadikannya input dalam proses pembuatan kebijakan. Adanya “recess” ini
diakui sangat membantu DPRD Kaltim dalam memahami masalah-masalah yang terjadi
di Kalimantan Timur.
Hal menarik lainnya
adalah adalah salah satu anggota DPR yang dengan lantang menyuarakan
ketidaksetujuannya akan salah satu
tindakan Walikota Samarinda saat seorang mahasiswa yang bernama Rian Sutrisno
bertanya tentang macetnya pembangunan salah satu taman kota dan pengalihan
pembangunan dari salah satu Perusahaan ke Perusahaan lainnya sehingga pembangunannya menjadi tidak
efektif. Menurut saya secara pribadi, tindakan ini sangat berani karena
terdapat banyak anggota DPR yang tak mampu menyuarakan ketidaksetujuaannya akan
kebijakan dan keputusan pemerintah dan hanya menurut saja. Hal inilah yang
seharusnya dibangun dan dikembangkan sehingga mendapat progres yang baik dalam
pembangunan Kaltim kedepannya.
Secara keseluruhan, terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada, diskusi yang dilakukan sangat menarik. Diskusi dalam satu sesi materi dan dua sesi pertanyaan, memberikan masukan yang sangat baik dan menarik baik bagi mahasiswa maupun bagi Anggota DPRD Kalimantan Timur sendiri. Pertemuan berlangsung kurang lebih selama tiga jam dan diakhiri dengan sesi poto bersama dan tour keliling gedung DPR.
Secara keseluruhan, terlepas dari kekurangan-kekurangan yang ada, diskusi yang dilakukan sangat menarik. Diskusi dalam satu sesi materi dan dua sesi pertanyaan, memberikan masukan yang sangat baik dan menarik baik bagi mahasiswa maupun bagi Anggota DPRD Kalimantan Timur sendiri. Pertemuan berlangsung kurang lebih selama tiga jam dan diakhiri dengan sesi poto bersama dan tour keliling gedung DPR.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar